Selasa, 31 Mei 2016

tafsir ayat tentang alam



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu. Al-Qur’an menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta.
Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, be. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi produk dari hasil Tuhan.
B.     TUJUAN PENULISAN
Menafsirkan atau menjelaskan tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan alam, yaitu pada surah Al-Baqarah, Ali-Imran, Al-A’raf dan Ibrahim.


BAB II
PEMBAHASAN

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG ALAM
A.      Al-Baqarah ayat 29
هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٢٩
Artinya:
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al-Baqarah : 29).
Tafsirannya:
Jelas sekali dalam ayat ini bahwa dunia dijadikan untuk umat manusia, yang tidak terkecuali umat islam didalamnya, bahkan untuk merekalah yang terutama karena iman dan takwanya. Ilmu dan teknologi untuk memanfaatkan ni’mat di muka bumi ini harus ditingkatkan. Umat islam harus memelopori kemajuan di dunia ini sebagaimana yang sudah dibuktikan dalam sejarahnya. Mereka dahulu menjadi guru barat. Sekarang sudah saatnya umat islam bangkit kembali[1].
Kemudian di dalam tafsir yang lain:
Pada kalimat هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ yaitu menciptakan bumi beserta isinya. جَمِيعًا (kesemuanya), agar kamu beroleh manfaat dan mengambil perbandingan dari padanya.  ثُمَّ اسْتَوَى yaitu setelah menciptakan bumi tadi, Tuhan bermaksud hendak menciptakan pula.
إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَ yaitu kata “hunna” sebagai kata ganti benda yang dimaksud adalah langit itu, maksudnya ialah dijadikan-Nya.
سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ yaitu dikemukakan secara mujmal (ringkas) atau secara mufashshal (terurai), maksudnya, “tidakkah Allah yang mampu menciptakan semua itu dari mula pertama, padahal dia lebih besar dan lebih hebat dari pada kamu, akan mampu pula menghidupkan kamu kembali”[2].
Arti dari ayat di atas, jangan diartikan bahwa penciptaan langit terjadi sesudah penciptaan bumi. Kata “lalu” disitu hanya dalam sebutan, bukan menunjukkan masa. Misalnya si A telah memberi si B baju dan sepatu. Lalu si A berkata: “aku telah menolong si B, aku telah memberinya baju dan sepatu.” Maka ini tidak berarti bahwa pemberian sepatu terjadi sesudah pemberian baju[3].

B.  Al-A’raf ayat 54
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

Artinya:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (Al-A’raf : 54).
Tafsirannya:
Masalah Allah menciptakan ruang angkasa dan bumi dalam enam hari (enam tahap), bukanlah seperti hari menurut perhitungan kita, yaitu 24 jam. Surat Al-Hajj : 47 berbunyi: “Sesungguhnya sehari pada perhitungan Tuhanmu ialah seribu tahun menurut perhitunganmu”. Berapa lama setiap tahap itu Allah jualah yang mengetahui. Ada ahli astronomi yang berpendapat bahwa bumi dan ruang angkasa mulanya satu sebagai asap atau gas yang disebut nebula. Kemudian bumi terpisah dari matahari. Bumi mulai disirami air dan mulai dingin. Setelah berangsur dingin terciptalah lautan dan daratan, lembah dan gunung. Kemudian mulai hidup binatang dan lalu berkembang biak. Diantara binatang itu ialah manusia, makhluk yang paling sempurna sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Masalah Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy kita yakini bukan seperti bersemayamnya raja-raja di singgasananya. Allah tidak serupa dan tidak dapat di serupakan dengan segala ciptaan-Nya[4].
Di dalam tafsir yang lain dijelaskan, Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalkannya dengan kekuasaan-Nya, Dia menciptakan matahari, bulan, dan bintang yang semua tunduk kepada perintah-Nya, mereka tunduk kepada Allah, menerima perintah-Nya dan menyambut-Nya, serta berjaln kemana saja menurut perintah Allah sebagimana halnya makhluk berjalan[5].

C. Ali-Imran ayat 27 dan 190-191
تُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۖ وَتُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَتُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّۖ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ٢٧
Artinya :
“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."
Tafsirannya
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهارِ وَ تُولِجُ النَّهارَ فِي اللَّيْلِ
"Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam." (pangkal ayat 27).
Artinya Engkau gilirkan peredaran musim, sehari semalam 24 jam; 12 jam mestinya untuk siang dan 12 jam untuk malam, tetapi bilangan siang atau sebaliknya, sehingga termasuklah atau tersarunglah sebahagian dari hitungan waktu bilangan malam telah termasuk ke siang hari, atau jam bilangan siang termasuk ke dalam malam hari. Kita renungkan edaran siang dan malam ini, yang di dalam edaran itu terjadilah segala peristiwa, sehingga kita dapat mengambil kesan bahwa turun naiknya suatu bangsa, naik atau turunnya bintang seseorang manusia tali-temali dengan edaran zaman ini, sehingga dari sebabnya kita dapat menghitung perjalanan sejarah.
Sejarah bangsa naik dan bangsa jatuh. Sejarah kekuasaan manusia yang bergeser, dahulu budak jajahan sekarang ummat merdeka. Dahulu dipertuan, sekarang menjadi yang terusir.
Kita saja yang kadang-kadang payah menghitung sebelum tahu, tetapi kemudian kita mengakui kebenarannya setelah melihat kenyataan.
وَ تُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ
"dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup."
Dilihat ke segala yang kecil, tampaklah dari telur yang belum bernyawa timbul seekor anak ayam dan hidup, dan dari ayam yang hidup keluar telur yang belum bernyawa. Dari yang kecil dapat kita lihat bangkai anjing di pinggir jalan, beberapa hari terletak lalu timbul ulat yang kecil-kecil beribu-ribu banyaknya, kemudian menjadi langau dan lalat. Maka keajaiban pada mati dan hidup, hidup dan mati pada makhluk yang kecil, sama dengan keajaiban yang didapat pada alam yang besar. Diukur pada bangsa-bangsa pun demikian pula. Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati. Allah menanamkan ajaran Islam yang hidup dari negeri Mekah yang laksana mati karena jahiliyahnya.
Berkali-kali pula Allah memperlihatkan kuasa, dari orang yang bodoh lahir seorang anak yang pintar, atau dari seorang ayah yang pintar, lahir seorang anak yang bodoh. Dari seorang ayah yang thalih timbul anak yang shalih, dan dari ayah yang shalih ada anak yang thalih.

وَ تَرْزُقُ مَنْ تَشاءُ بِغَيْرِ حِسابٍ
"dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira." (ujung ayat 27).
Tidakkah pula berkira-kira kalau dia melimpahkan rezeki kepada makhlukNya. Siapa yang akan mengira dan menghitung, padahal rezeki itu Dia punya, dan yang Dia beri itu Dia pula yang punya ? dan berapa pun banyaknya Dia memberi tidaklah Dia akan rugi, sebagai yang tersebut di dalam Hadits Qudsi:
"Kalau sekiranya orang-orang yang dahulu di antara kamu dan orang-orang yang terkemudian, baik jin ataupun manusia, semuanya memohon kepada Allah dan semuanya diberi, tidaklah akan rusak dan kurang kepunyaan Allah, hanyalah laksana memasukkan sebuah jarum ke dalam lautan saja." Jarum Dia yang punya dan lautpun Dia yang punya .
Apabila Allah menyuruh Rasul-Nya membaca ayat ini sebagai doa, dan kemudian dia baca pula sebagai doa, terlepaslah kita dari suasana terombang-ambing melihat perubahan perubahan keadaan dan suasana di dalam alam ini.
Dan tertujulah rasa Tauhid, yaitu menghimpunkan kekuasaan dan kemuliaan kepada yang Satu. Maka bersyukurlah kepada Allah ketika diberiNya kurnia dan bersabarlah atas percobaanNya seketika Dia cabut. Tetapi apabila iman ada dalam hati, perobahan keadaan tidaklah akan merubah . Sebab semua kita dari Allah dan akan kembali kepada Allah.[6]



إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali-Imran : 190-191).
Tafsirannya:
Menerangkan bahwa kejadian ruang angkasa dan bumi yang amat rapi dan ajaib sekali akan menarik perhatian para ilmuwan untuk memikirkannya, dengan mempelajari ilmu-ilmu astronomi, geologi, ilmu hewan, tumbuh-tumbuhan, penelitian ruang angkasa, dan berbagai ilmu tentang alam semesta. Semua itu akan menimbulkan kekaguman dan keharuan atas kekuasaan Allah SWT. amal dan do’a mengharapkan ampunan dan ‘inayah Allah selalu diucapkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang memikirkan kesempurnaan ciptaan Allah itu. Ayat-ayat di atas pada hakikatnya menyeru agar ilmu dan teknologi dipergunakan untuk menimbulkan kesadaran kepada kekuasaan Allah dan akhirnya tunduk bertakwa kepada-Nya[7].
Di dalam tafsiran yang lain, berpikirlah tentang apa yang diciptakan Allah, dan janganlah dipikirkan dzat-Nya Allah, walau bagaimanapun ilmu manusia tidak akan mampu sampai kesana[8].

D. Ibrahim ayat 32-34
ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ لِتَجۡرِيَ فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَٰرَ ٣٢ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآئِبَيۡنِۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ ٣٣ وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ ٣٤
Artinya:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (32). Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (33). Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (34). (Ibrahim : 32-34).

Tafsirannya:
Sumber-sumber untuk kemakmuran manusia sudah lengkap tersedia di bumi dan di ruang angkasa. Kepada manusia diserahkan Allah untuk mengolahnya dengan baik[9].
Di dalam tafsir yang lain dijelaskan, “Allah yang telah menciptakan langit dan bumi” serta mengatur peredarannya dengan sangat teliti dan teratur dan Allah juga menurunkan dari langit air hujan, dengan menciptakan hukum-hukum alam yang mengatur turunnya. Kemudian Dia mengeluarkan, yakni menumbuhkan dengannya air hujan itu berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu manfaatkan untuk diri kamu maupun binatang-binatang kamu. Dia telah menundukkan bahtera bagi kaum supaya ia “bahtera” itu dapat berlayar dengan tenang dilautan lepas dengan kehendaknya untuk mengangkut kamu dan barang dagangan kamu. Dia juga telah menundukkan pula bagi mu semua sungai-sungai untuk mengairi sawah ladang kamu dan untuk kepentingan kamu lainnya. Anugerah itu kamu lihat dengan jelas di bumi. Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya untuk memancarkan cahaya, memberi kehangatan dan banyak manfaat untuk makhluk hidup dan Dia telah menundukkan bagi kamu malam sehingga kamu dapat beristirahat dan siang supaya kamu dapat bekerja dengan giat.
Segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allah SWT. Menurut Thabathaba’i disiapkan Allah untuk jenis manusia, walaupun boleh jadi secara individu ada yang tidak dipenuhi permintaannya, dibalik tidak terpenuhi permintaan itu, pasti ada hikmah, bahkan boleh jadi bila hikmah itu diketahui sebelumnya oleh yang memintanya, maka dia tidak akan memintanya. Dengan demikian pada akhirnya dapat juga dikatakan bahwa Allah memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya.
Kata ظَلُومٌ (zhalum/ sangat berbuat zalim) antara lain berarti menzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya, atau mengambil melebihi dari yang seharusnya dia ambil, atau bersifat mubazir, menyia-nyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya. Segelas air cukup untuk menghilangkan dahaga, tetapi bila mengambilnya lebih dari segelas, maka sisanya yang tidak di minum dan di buang dapat menjadikan manusia atau binatang yang membutuhkannya akan kehausan[10].














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada surah Al-Baqarah intinya menjelaskan tentang penciptaan bumi dan segala isinya yang dapat memberi manfaat kepada umatnya.
Dalam surah Al-A’raf menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi selama enam masa, bukan berarti enam hari sesuai dengan perhitungan kita. Sehari dalam perhitungan Allah seribu tahun pada perhitungan manusia.
Dalam surah Ali-Imran menjelaskan tentang bahwa kejadian ruang angkasa dan bumi yang amat rapi dan ajaib sekali akan menarik perhatian para ilmuwan untuk memikirkannya, dengan mempelajari ilmu-ilmu astronomi, geologi, ilmu hewan, tumbuh-tumbuhan, penelitian ruang angkasa, dan berbagai ilmu tentang alam semesta.
Dalam surah Ibrahim menjelaskan tentang Allah yang telah menciptakan langit dan bumi” serta mengatur peredarannya dengan sangat teliti dan teratur dan Allah juga menurunkan dari langit air hujan, dengan menciptakan hukum-hukum alam yang mengatur turunnya.

B.     Saran
Kami selaku penyusun menyadari bahwa sangat banyak terdapat kesalahan didalam membuat makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat menghargai sekali jika ada saran dan kritikan dari pembaca agar kedepannya kami dapat menyusun sebuah makalah dengan lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahalli, Jalaluddin dan As-Suyuthi, Jalaluddin, Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1996), cet.3
Bakry, Oemar, Tafsir Rahmat, (Jakarta: 1984), cet. Ketiga
Quthb, Sayyid, Tafsir Fizhilalil Qur’an, ( Jakarta: Gema Insani Press, 2002), cet. 1
Shihab, Quraish, Tafsir Al-Mishbah, ( Jakarta: Lentera Hati, 2002), cet.1
Surin, Bachtiar,  Adz Zikraa, (Bandung: Angkasa Bandung, 1991







[1] Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta: 1984), cet. Ketiga, hlm.13.
[2] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1996), cet.3, hlm. 16-17.
[3] Bachtiar Surin, Adz Zikraa, (Bandung: Angkasa Bandung, 1991), hlm. 27.
[4] Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta: 1984), cet. Ketiga, hlm. 297.
[5] Sayyid Quthb, Tafsir Fizhilalil Qur’an, ( Jakarta: Gema Insani Press, 2002), cet. 1, hlm 324
[7] Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta: 1984), cet. Ketiga, hlm. 139-141.
[8] Bachtiar Surin, Adz Zikraa, (Bandung: Angkasa Bandung, 1991), hlm. 304.
[9] Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta: 1984), cet. Ketiga, hlm. 493.
[10] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, ( Jakarta: Lentera Hati, 2002), cet.1,hlm 60-63.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar